Showing posts with label Tafsir al-Quran. Show all posts
Showing posts with label Tafsir al-Quran. Show all posts

Monday, February 29, 2016

Tentang Surah Al-Ikhlas


Unduh file:
https://drive.google.com/uc?export=download&id=0Bwl0g7N6gVwoWVZOWXh5NXVuZTg

Mading Masjidillah 29 Februari 2016

Sebagian ulama mengartikan Allah adalah kata untuk Tuhan di semua bahasa. Tiap utusan Allah menyampaikan bahwa Allah adalah Tuhan, bahasa apapun mereka bicara. Misalnya, kata Eloah untuk bangsa Yahudi, kata Ellah untuk bangsa Aramaic, dan Elohim sama dengan Allahumma dalam bahasa Arab.

Saturday, August 15, 2015

Tuhan Mengambil Anak?

"Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah itu telah mengambil (ittakhodza) anak". (pangkal ayat 26).
Mereka katakan Tuhan mengambil anak. Kata "ittakhodza" artinya telah mengambil anak. Karena mereka pun sudah insaf bahwa Tuhan itu mustahil beranak sebagai manusia, sebab Alloh itu bukan sebagai seorang laki2 yang menghendaki isteri yang melahirkan anaknya, dan bukan pula sebagai perempuan yang mengandung dahulu baru beranak, lalu mereka katakan Tuhan mengambil anak.
~ Prof Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 17, Surah al-Anbiya, ayat 26, hal. 42 (dengan editing)

Friday, July 17, 2015

Dua Makna iLLa

Judul asli: Benarkah Iblis Termasuk Kelompok Malaikat?

oleh: Prof. Muhammad Quraisy Shihab

Bahasa Arab memperkenalkan dua arti dari kata illa yang umumnya diterjemahkan dengan “kecuali”. Apabila yang dikecualikan termasuk bagian dari kelompok yang dikecualikan, kata illa dinamai istisna muttashil (pengecualian yang berhubungan), dan ini berarti kecuali. Akan tetapi, bila ia bukan bagian dari kelompok, pakar tata bahasa menamainya istisna’ muntqathi’ (pengecualian yang terputus), dan ketika itu ia berarti “tetapi”. Jika Anda berkata, “Semua mahasiswa datang, kecuali Budi,” Budi adalah salah seorang mahasiswa, namun dia tidak datang. Dan jika yang tidak datang bukan mahasiswa, melainkan pengemudi -katakanlah namanya Badu- maka Anda harus berkata, “Semua mahasiswa datang, tetapi Badu (berhalangan).”

Tuesday, July 7, 2015

Mengapa disuruh bersabar di dalam mengerjakan Sholat?

Karena sholat tidaklah membawa keuntungan benda. Asal sudah sholat tidaklah akan segera nampak hasilnya oleh mata. Dia adalah urusan ketenteraman jiwa.

Sholat itu pun adalah doa. Jika tdk sgera terkabul janganlah berkecil hati, bersabarlah. "Tidaklah Kami meminta rezeki kpd engkau". Menurut yg ditafsirkan oleh ar-Razi, maksud ayat ini adalah: "Tidaklah Kami meminta rezki utk engkau dan tdk juga utk keluarga engkau"

Maksudnya adalah: janganlah engkau bimbang dan ragu tentang jaminan hidupmu, asal engkau benar2 menyerahkan diri kpd Tuhan, Sholat dg tekun dan engkau suruhkan pula kaum keluargamu menuruti jejakmu itu.

Soal rezki jgn membuat hatimu bimbang "Kamilah yg akan memberi engkau rezki".

Tafsir Al-Azhar, Juz 16, Thaha ayat 128-132

Friday, April 17, 2015

fiil mudhori’ nashob tanpa amil

prasyarat: ilmu nahwu tingkat dasar

bismillah. lompat ke surat ali imron (3) ayat ke-128, ada hal unik yang saya jumpai dalam ayat ini.

surat ali imron ayat 128

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. [Ali Imron (3) ayat 128]

fi’il mudhori’ yatuuba dan yu’addziba di ayat ini sedikit unik. normalnya, fi’il mudhori’ itu dibaca rofa’. dia dapat menjadi nashob bila sebelumnya ada amil nashob, huruf yang membuat nashob, semisal huruf an, lan, dan semacamnya.

Monday, February 2, 2015

Apakah Alloh juga Melakukan Perbuatan Buruk?

Bismillah. Sampai di ayat ke tujuh suroh al-Baqoroh

image

“Alloh menutup atas hati mereka …”

Imam az-Zamakhsyari dalam tafsir al-Kassyaf memunculkan pertanyaan menarik seputar keyakinan atau aqidah. Berikut petikan yang sempat saya terjemahkan.

===

Saturday, December 27, 2014

Mendahulukan Maf’ul

Bismillah. Sampai di ayat ke lima surat al-Fatihah.

clip_image002

“hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”

Dari mana kata ‘hanya’ itu berasal?

Imam az-Zamakhsyari, dalam tafsir al-Kassyaf, menuliskan

clip_image004

“mendahulukan maf’ul (objek) itu untuk menyatakan maksud pengkhususan”

image

Idealnya, satu kalimat dalam bahasa Arab tersusun dalam pola: fi’il – fa’il – maf’ul atau predikat – subjek – objek. Mendahulukan objek mengisyaratkan makna pengkhususan dan urgensi dari objek tersebut. Maka, lafadz di atas diartikan dengan “kami mengabdi hanya kepada Engkau”.

Referensi

Tafsi al-Kassyaf, Imam az-Zamakhsyari, juz 1, hal. 117-118

Sunday, September 14, 2014

Tentang Tayangan Tafsir al-Mishbah 12 Juli 2014

Dialog

Moderator: Nabi Muhammad kan sudah.., istilahnya, sudah dijamin sebagai manusia yang paling mulia yang masuk surga gitu.. nah, untuk kita-kita manusia yang hidup jaman sekarang atau masa yang akan datang gitu, apakah ada kemungkinan untuk bisa mengejar status seperti itu pak Quraisy, paling tidak ya... hampir seperdelapannya lah gitu agar kita merasa yakin...

Prof. Quraisy Sihab: Satu hal dulu, tidak benar, saya ulangi, tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga. Naahh... surga itu hak prerogratif Alloh, ya tho... memang kita yakin bahwa beliau... Kenapa saya katakan begitu? Pernah ada seorang sahabat Nabi kenal orang baik, terus teman-temannya disekitarnya berkata “bahagialah engkau akan mendapat surga”. Nabi dengar “siapa yang bilang begitu tadi?”. Nabi berkata “tidak seorang pun yang masuk surga karena amalnya”. Kamu berkata dia baik amalnya, jadi jaminan surga. Surga hak pregrogratif Tuhan. Terus ditanya “Kamu pun tidak wahai Nabi Muhammad?” “Saya pun tidak, kecuali kalau Alloh menganugerahkan rahmat kepada saya”

Jadi, kita berkata, dalam konteks surga dan neraka, tidak ada yang dijamin Tuhan, kecuali kita katakan bahwa Tuhan menulis di dalam kitab sucinya bahwa yang taat itu akan dapat surga, ada ayatnya... Bahwa Nabi Muhammad akan diberikan sesuatu yang menjadikan beliau itu merasa puas dengan anugerah Tuhan, kita pahami itu bahwa surga dan apapun yang beliau kehendaki. Tapi buat kita, kiyai sebesar apapun, setaat apapun, jangan pastikan bahwa dia masuk surga. Sebaliknya, manusia sedurhaka apapun, jangan pastikan bahwa dia pasti masuk neraka.

Monday, February 6, 2012

Suroh Al-Ikhlas

Kutipan Tafsir Al-Azhar, Prof. HAMKA, Suroh Al-Ikhlas


...
Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis yang dirawikan oleh Bukhari dari Aisvah, – moga-moga Allah meridhainya – bahwa Nabi s.a.w. pada satu waktu telah mengirim siryah (patroli) ke suatu tempat. Pemimpin patroli itu tiap-tiap sembahyang yang menjahar menutupnya dengan membaca "Qul Huwallaahu Ahad." Setelah mereka kembali pulang, mereka khabarkanlah perbuatan pimpinan mereka itu kepada Nabi s.a.w. Lalu beliau s.a.w. berkata: "Tanyakan kepadanya apa sebab dia lakukan demikian." Lalu mereka pun bertanya kepadanya, (mengapa selalu ditutup dengan membaca Qul Huwallaahu Ahad).


Dia menjawab: "Itu adalah sifat dari Tuhan Yang Bersifat Ar-Rahman, dan saya amat senang membacanya." Mendengar keterangan itu bersabdalah Nabi s.a.w.: "Katakanlah kepadanya bahwa Allah pun senang kepadanya."

Friday, February 3, 2012

Suroh Al- Falaq

Kutipan Tafsir Al-Azhar, Prof. HAMKA, Suroh Al-Falaq.


...
Benarkah Nabi Muhammad SAW Pernah Kena Sihir?


Menurut yang dinukil oleh asy-Syihab dari kitab "at-Ta'wilat" karangan Abu Bakar al-Asham darihal peristiwa Nabi SAW kena sihir. Menurut beliau ini, Hadis berkenaan dengan Nabi s.a.w. kena sihir itu adalah matruk, artinya ialah Hadis yang mesti ditinggalkan dan tidak boleh dipakai. Karena kalau Hadis demikian diterima, berarti kita mengakui apa yang didakwakan oleh orang kafir, bahwa Nabi s.a.w. telah (mempan[1]) kena sihir. Padahal yang demikian itu sangat bertentangan dengan Nash yang ada dalam al-Quran sendiri.
...

Suroh An-Naas

Kutipan Tafsir Al-Azhar, Prof. HAMKA, Suroh An-Naas.


...
Di tengah-tengah gelombang kehidupan manusia yang banyak itu, dengan berbagai macam ragam keinginan, kelakuan, cita-cita, lingkungan dan pendidikan terseliplah kita, saya dan saudara, sebagai peribadi. Menyisih dari sesama manusia tidak bisa, dan bergaul terus dengan mereka bukan tak ada pula akibatnya, akibat yang baik ataupun yang buruk. Manusia bisa menguntungkan kita dan bisa membahayakan kita.


Maka diajarkanlah pada Surat yang terakhir ini bagaimana cara kita menghadapi dan hidup di tengah-tengah manusia. Kita dengan ajaran melalui Nabi SAW. disuruh memperlindungkan diri kepada Allah!
...

Monday, October 31, 2011

Kelak Nabi Isa Turun ke Bumi?

Dikutip dari:

HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imron, Ayat 55

-----------------------------------------------------------------------------------------

Berkata pula Syaikh Mahmoud Syaltout, Syaikh Jami’ Al Azhar (meninggal tahun 1963), tentang Hadits-Hadits bahwa Nabi Isa akan turun – Demikian kata beliau: “Riwayat-riwayat itu adalah kacau balau, berlain-lain saja lafazhnya dan maknanya yang tidak dapat dipertemukan. Kekacau-balauan ini dijelaskan benar-benar oleh Ulama Hadits. Dan di atas dari itu semua, yang membawa riwayat ini ialah Wahab bin Munabbah dan Ka’ab Al Ahbar, kedaunya itu ialah ahlul-kitab yang kemudian memeluk Islam, dan sudahlah dikenal derajat keduanya dalam penialaian ahli-ahli Jarh dan Ta’dil (ahli penyelidik nilai Hadits).

Meskipun Hadits yang dirawikan Abu Hurairah tentang Nabi Isa akan turun ada pula, apabila Hadits itu shahih, namun dia adalah Hadits Ahad. Dan Ulama telah Ijma’ bahwasannya Hadits Ahad tidak berfaedah untuk dijadikan dasar akidah dan tidak sah dipegang dalam urusan-urusan yang gaib.

Tentang Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Isa dan Yahya ketika Mi’raj bukanlah alas an yang kuat buat membuktikan bahwa Isa AS hidup di langit, tetapi itu hanyalah pertemuan kerohanian belaka, bukan pertemuan tubuh. Keterangan tentang ini dapat dilihat dalam kitab Fathul Bari dan Zadil Ma’ad.

Bagaimana Keadaan Nabi Isa Sekarang?

Dikutip dari:

HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imron, Ayat 55

---------------------------------------------------------

Dan berkata pula Syaikh Mustafa Al Maragi, Syaikh Jami’ Al Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini: “Tidak ada dalam Al Qur’an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa a.s. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya. Adapun sabda Tuhan mengatakn: “Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari pada orang-orang yang kafir itu !” – Jelaslah bahwa Alloh mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zhahir-lah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Alloh, sebagaimana Idris a.s. dikatakan Tuhan; “Dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi.” Dan inipun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Alloh, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-Nabi yang lain juga.

Tetapi Jumhur Ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Alloh dengan tubuh dan nyawanya, sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada Hadits yang memperkatakan hal ini, lalu mereka tafsirkan Al Qur’an disejalankan dengan maksud Hadits-Hadits itu.

Lalu kata beliau: “Tetapi Hadits-Hadits ini tidaklah sampai kepada derajat Hadits-Hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai akidah. Sebab akidah tidaklah wajib melainkan dengan Nash Al Qur’an dan Hadits-Hadits yang mutawatir. Oleh karena itu maka tidaklah wajib seorang Muslim beritikad bahwa Isa Almasih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang menyalahi akidah itu tidaklah kafir dari syariat Islam.”

Demikianlah, oleh karena Al Qur’an selalu terbuka buat difahamkan, meskipun golongan yang menafsirkan ayat ini bahwa Nabi Isa diangkat dengan tubuhnya ke langit disebutkan Jumhur, tidaklah tertutup pintu buat menilai pokok pendirian orang yang menafsirkan ayat menurut lahirnya itu, sehingga mungkin di satu waktu, tafsiran jumhur itu hanyalah sebagai catatan saja, bahwa pernah banyak orang menafsirkan demikian, tetapi tafsir yang ke dua diterima oleh pendapat umum.

Monday, September 12, 2011

Jarang ≠ Tidak Masuk Akal, bagian 02


Dikutip dari:
HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imron, Ayat 47
Tentu saja...
Berita mengandungnya Maryam yang suci itu dan lahirnya Isa Almasih dengan keajaiban yang demikian hanya dapat ditolak oleh orang yang cara berfikirnya tidak beres. Yang menyerupakan saja di antara yang jarang kejadian dengan yang tidak masuk akal akan kejadian. Misalnya kalau ada berita bahwa seekor lembu telah masuk ke dalam lobang jarum, sedang lobang jarum sekecil itu juga dan lembu sebesar itu juga, itulah yang tidak masuk di akal. Tetapi perempuan mengandung tidak karena persetubuhan, bukanlah perkara yang tidak masuk akal, meskipun diakui bahwa itu adalah hal yang jarang sekali kejadian. Oleh sebab itu orang yang beragama, baik Islam ataupun dia Nasrani, kalau dia percaya akan kejadian itu, bukan sajalah karena kitab suci telah mengatakan demikian lalu diterima sebagai Dogma, tetapi karena memang hal yang demikian itu masuk akal. Terutama Al Qur’an terlebih dahulu memberi pengantar kata bahwa Maryam itu adalah gadis suci; kitapun percaya. Sedangkan berita anak usia tiga bulan mengandung yang disiarkan surat-surat kabar, kita percaya, apatah lagi kalau Al Qur’an yang mengatakan.

Jarang ≠ Tidak Masuk Akal, bagian 01


Dikutip dari:
HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imron, Ayat 47
Pada Surat Kabar Mingguan Keng Po yang terbit 25 Maret 1956 dan 1 April 1956 ada disiarkan berita yang ganjil. Yaitu seorang bayi yang baru berumur 3 (tiga) bulan mengandung anak yang sudah berkaki bertangan. Bayi umur 3 bulan itu ialah anak seorang Sopir truck bernama Sanusi, tinggal di Kaum Kidul Cianjur. Bayi itu telah dioperasi di Rumah Sakit Ludwina, di Bunut, Sukabumi oleh Dr. H. G. R. Held. Berita ini tersiar dan dikutip juga oleh surat-surat kabar lain.
Niscaya lebih ganjillah hal anak usia tiga bulan mengandung ini, yang terjadi sama sekali bukan karena persetubuhan. Lebih ganjil dari pada berita Siti Maryam mengandung bukan karena persetubuhan pula, dalam usia yang sudah besar. Hal ini ganjil, luar biasa tetapi tidak mustahil pada akal.
Ketika tersiar berita anak tiga bulan mengandung itu, diketahui anak siapa dia yaitu anak Sanusi sopir truck, jelas alamat rumahnya dan terang dokter yang mengoperasi, orang tidak dapat lagi mengatakan bahwa berita itu adalah bohong. Dia telah kejadian, meskipun keheranan orang tidak hilang. Orang sudah menerimanya sebagai suatu kenyataan. “ALLAH BERBUAT SEKEHENDAKNYA.”

Sunday, September 4, 2011

Hikmah Baca Al-Quran

HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz XXX, At-Tiin

Prof. Hamka, Ulama besar Tanah Air dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pertama, menulis dalam Tafsir Al-Azhar,

'Ammati (saudara perempuan ayahku), Uaik Tuo Aisyah meninggal dalam usia 86 tahun. Sejak beberapa tahun sebelum meninggal beliau telah pekak tuli, sehingga tidak mendengar lagi apa yang kita bicarakan dekat beliau. Tetapi sejak masih gadisnya beliau menuruti ajaran ayahnya, Tuanku Syaikh Amrullah yaitu mewiridkan membaca al-Quran sekhatam-sekhatam. Dan kalau tidak ada kesempatan, namun Surat-surat Yaa-Siin, al-Waqi'ah, al-Kahfi, al-Mulk dan beberapa Surat yang lain yang beliau hapal di luar kepada. Dan Surat-surat itulah yang selalu beliau baca. Maka meskipun sudah tua dan telinga sudah pekak, namun beliau tidak sampai pikun. Kerja beliau sehari-hari hanya membaca al-Quran sehingga pekaknya tidak jadi rintangan baginya. Setelah dia sakit akan meninggal, mulutnya masih berkomat-kamit membaca al-Quran. Dan beberapa jam lagi akan menutup mata masih sempat dengan senyum dia berkata bahwa dia mendengarkan suara-suara yang indah merdu membaca al-Quran. Lalu beliau suruh anak cucu yang mengelilingnya turut berdiam mendengarkan bacaan itu. Padahal bacaan itu tidak didengar oleh mereka.

Dan beliau pun meninggal dalam senyum, barangkali dalam suasana mendengar suara merdu membaca al-Quran.