https://drive.google.com/uc?export=download&id=0Bwl0g7N6gVwoWVZOWXh5NXVuZTg
Mading Masjidillah 29 Februari 2016
Judul asli: Benarkah Iblis Termasuk Kelompok Malaikat?
oleh: Prof. Muhammad Quraisy Shihab
Bahasa Arab memperkenalkan dua arti dari kata illa yang umumnya diterjemahkan dengan “kecuali”. Apabila yang dikecualikan termasuk bagian dari kelompok yang dikecualikan, kata illa dinamai istisna muttashil (pengecualian yang berhubungan), dan ini berarti kecuali. Akan tetapi, bila ia bukan bagian dari kelompok, pakar tata bahasa menamainya istisna’ muntqathi’ (pengecualian yang terputus), dan ketika itu ia berarti “tetapi”. Jika Anda berkata, “Semua mahasiswa datang, kecuali Budi,” Budi adalah salah seorang mahasiswa, namun dia tidak datang. Dan jika yang tidak datang bukan mahasiswa, melainkan pengemudi -katakanlah namanya Badu- maka Anda harus berkata, “Semua mahasiswa datang, tetapi Badu (berhalangan).”
Karena sholat tidaklah membawa keuntungan benda. Asal sudah sholat tidaklah akan segera nampak hasilnya oleh mata. Dia adalah urusan ketenteraman jiwa.
Sholat itu pun adalah doa. Jika tdk sgera terkabul janganlah berkecil hati, bersabarlah. "Tidaklah Kami meminta rezeki kpd engkau". Menurut yg ditafsirkan oleh ar-Razi, maksud ayat ini adalah: "Tidaklah Kami meminta rezki utk engkau dan tdk juga utk keluarga engkau"
Maksudnya adalah: janganlah engkau bimbang dan ragu tentang jaminan hidupmu, asal engkau benar2 menyerahkan diri kpd Tuhan, Sholat dg tekun dan engkau suruhkan pula kaum keluargamu menuruti jejakmu itu.
Soal rezki jgn membuat hatimu bimbang "Kamilah yg akan memberi engkau rezki".
Tafsir Al-Azhar, Juz 16, Thaha ayat 128-132
prasyarat: ilmu nahwu tingkat dasar
bismillah. lompat ke surat ali imron (3) ayat ke-128, ada hal unik yang saya jumpai dalam ayat ini.
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. [Ali Imron (3) ayat 128]
fi’il mudhori’ yatuuba dan yu’addziba di ayat ini sedikit unik. normalnya, fi’il mudhori’ itu dibaca rofa’. dia dapat menjadi nashob bila sebelumnya ada amil nashob, huruf yang membuat nashob, semisal huruf an, lan, dan semacamnya.
Bismillah. Sampai di ayat ke tujuh suroh al-Baqoroh
“Alloh menutup atas hati mereka …”
Imam az-Zamakhsyari dalam tafsir al-Kassyaf memunculkan pertanyaan menarik seputar keyakinan atau aqidah. Berikut petikan yang sempat saya terjemahkan.
===
Bismillah. Sampai di ayat ke lima surat al-Fatihah.
“hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”
Dari mana kata ‘hanya’ itu berasal?
Imam az-Zamakhsyari, dalam tafsir al-Kassyaf, menuliskan
“mendahulukan maf’ul (objek) itu untuk menyatakan maksud pengkhususan”
Idealnya, satu kalimat dalam bahasa Arab tersusun dalam pola: fi’il – fa’il – maf’ul atau predikat – subjek – objek. Mendahulukan objek mengisyaratkan makna pengkhususan dan urgensi dari objek tersebut. Maka, lafadz di atas diartikan dengan “kami mengabdi hanya kepada Engkau”.
Referensi
Tafsi al-Kassyaf, Imam az-Zamakhsyari, juz 1, hal. 117-118
Dialog
Moderator: Nabi Muhammad kan sudah.., istilahnya, sudah dijamin sebagai manusia yang paling mulia yang masuk surga gitu.. nah, untuk kita-kita manusia yang hidup jaman sekarang atau masa yang akan datang gitu, apakah ada kemungkinan untuk bisa mengejar status seperti itu pak Quraisy, paling tidak ya... hampir seperdelapannya lah gitu agar kita merasa yakin...
Prof. Quraisy Sihab: Satu hal dulu, tidak benar, saya ulangi, tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga. Naahh... surga itu hak prerogratif Alloh, ya tho... memang kita yakin bahwa beliau... Kenapa saya katakan begitu? Pernah ada seorang sahabat Nabi kenal orang baik, terus teman-temannya disekitarnya berkata “bahagialah engkau akan mendapat surga”. Nabi dengar “siapa yang bilang begitu tadi?”. Nabi berkata “tidak seorang pun yang masuk surga karena amalnya”. Kamu berkata dia baik amalnya, jadi jaminan surga. Surga hak pregrogratif Tuhan. Terus ditanya “Kamu pun tidak wahai Nabi Muhammad?” “Saya pun tidak, kecuali kalau Alloh menganugerahkan rahmat kepada saya”
Jadi, kita berkata, dalam konteks surga dan neraka, tidak ada yang dijamin Tuhan, kecuali kita katakan bahwa Tuhan menulis di dalam kitab sucinya bahwa yang taat itu akan dapat surga, ada ayatnya... Bahwa Nabi Muhammad akan diberikan sesuatu yang menjadikan beliau itu merasa puas dengan anugerah Tuhan, kita pahami itu bahwa surga dan apapun yang beliau kehendaki. Tapi buat kita, kiyai sebesar apapun, setaat apapun, jangan pastikan bahwa dia masuk surga. Sebaliknya, manusia sedurhaka apapun, jangan pastikan bahwa dia pasti masuk neraka.
Dikutip dari:
HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imron, Ayat 55
Berkata pula Syaikh Mahmoud Syaltout, Syaikh Jami’ Al Azhar (meninggal tahun 1963), tentang Hadits-Hadits bahwa Nabi Isa akan turun – Demikian kata beliau: “Riwayat-riwayat itu adalah kacau balau, berlain-lain saja lafazhnya dan maknanya yang tidak dapat dipertemukan. Kekacau-balauan ini dijelaskan benar-benar oleh Ulama Hadits. Dan di atas dari itu semua, yang membawa riwayat ini ialah Wahab bin Munabbah dan Ka’ab Al Ahbar, kedaunya itu ialah ahlul-kitab yang kemudian memeluk Islam, dan sudahlah dikenal derajat keduanya dalam penialaian ahli-ahli Jarh dan Ta’dil (ahli penyelidik nilai Hadits).
Meskipun Hadits yang dirawikan Abu Hurairah tentang Nabi Isa akan turun ada pula, apabila Hadits itu shahih, namun dia adalah Hadits Ahad. Dan Ulama telah Ijma’ bahwasannya Hadits Ahad tidak berfaedah untuk dijadikan dasar akidah dan tidak sah dipegang dalam urusan-urusan yang gaib.
Tentang Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Isa dan Yahya ketika Mi’raj bukanlah alas an yang kuat buat membuktikan bahwa Isa AS hidup di langit, tetapi itu hanyalah pertemuan kerohanian belaka, bukan pertemuan tubuh. Keterangan tentang ini dapat dilihat dalam kitab Fathul Bari dan Zadil Ma’ad.Dikutip dari:
HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imron, Ayat 55
---------------------------------------------------------
Dan berkata pula Syaikh Mustafa Al Maragi, Syaikh Jami’ Al Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini: “Tidak ada dalam Al Qur’an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa a.s. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya. Adapun sabda Tuhan mengatakn: “Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari pada orang-orang yang kafir itu !” – Jelaslah bahwa Alloh mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zhahir-lah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Alloh, sebagaimana Idris a.s. dikatakan Tuhan; “Dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi.” Dan inipun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Alloh, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-Nabi yang lain juga.
Tetapi Jumhur Ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Alloh dengan tubuh dan nyawanya, sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada Hadits yang memperkatakan hal ini, lalu mereka tafsirkan Al Qur’an disejalankan dengan maksud Hadits-Hadits itu.
Lalu kata beliau: “Tetapi Hadits-Hadits ini tidaklah sampai kepada derajat Hadits-Hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai akidah. Sebab akidah tidaklah wajib melainkan dengan Nash Al Qur’an dan Hadits-Hadits yang mutawatir. Oleh karena itu maka tidaklah wajib seorang Muslim beritikad bahwa Isa Almasih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang menyalahi akidah itu tidaklah kafir dari syariat Islam.”
HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz XXX, At-Tiin
Prof. Hamka, Ulama besar Tanah Air dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pertama, menulis dalam Tafsir Al-Azhar,
'Ammati (saudara perempuan ayahku), Uaik Tuo Aisyah meninggal dalam usia 86 tahun. Sejak beberapa tahun sebelum meninggal beliau telah pekak tuli, sehingga tidak mendengar lagi apa yang kita bicarakan dekat beliau. Tetapi sejak masih gadisnya beliau menuruti ajaran ayahnya, Tuanku Syaikh Amrullah yaitu mewiridkan membaca al-Quran sekhatam-sekhatam. Dan kalau tidak ada kesempatan, namun Surat-surat Yaa-Siin, al-Waqi'ah, al-Kahfi, al-Mulk dan beberapa Surat yang lain yang beliau hapal di luar kepada. Dan Surat-surat itulah yang selalu beliau baca. Maka meskipun sudah tua dan telinga sudah pekak, namun beliau tidak sampai pikun. Kerja beliau sehari-hari hanya membaca al-Quran sehingga pekaknya tidak jadi rintangan baginya. Setelah dia sakit akan meninggal, mulutnya masih berkomat-kamit membaca al-Quran. Dan beberapa jam lagi akan menutup mata masih sempat dengan senyum dia berkata bahwa dia mendengarkan suara-suara yang indah merdu membaca al-Quran. Lalu beliau suruh anak cucu yang mengelilingnya turut berdiam mendengarkan bacaan itu. Padahal bacaan itu tidak didengar oleh mereka.